Home / Dakwah / Bila Dakwah Tidak Ditegakkan

Bila Dakwah Tidak Ditegakkan

SEJARAH NABI NUH as.

Nabi Allah Nuh as. telah mengajak umat beliau ke jalan yang benar selama lebih kurang sembilan ratus lima puluh (950) tahun. Akan tetapi, ajakan yang beliau sampaikan ditolak mentah-mentah oleh kaum beliau, kecuali hanya sedikit saja yang bersedia beriman kepada apa yang telah beliau sampaikan. Sehingga pada akhirnya Nabi Allah Nuh as. mengakui, bahwa beliau dapat dikalahkan oleh orang-orang kafir. Selian itu, beliau meminta pertolongan kepada Allah „Azza wa Jalla, sehingga do‟a Nabi Nuh as. diterima oleh-Nya; seperti yang telah disebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, “Sebelum mereka, telah mendustakan pula kaum Nuh. Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dengan mengatakan, „Ia seorang yang sudah gila, dan ia pernah diberi ancaman.‟ Maka ia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, „Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah aku.‟ Maka Kami (Allah) bukakan pintupintu langit dengan menurunkan air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkat (selamatkan) Nuh ke atas bahtera yang terbuat dari papan serta paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami, sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku,” (QS al-Qamar [54]: 9-16). Ucapan mereka itu mengisyaratkan, bahwa mereka sebenarnya mengakui adanya seorang Nabi. Hanya saja, pada saat itu masyarakatnya berubah menjadi semakin memburuk (parah), sehingga pada akhirnya mereka menjadi umat yang tersesat jauh. Oleh karena itu, mereka kemudian berbalik menuduh Nabi Allah Nuh as. sebagai seorang yang telah hilang ingatan (gila), disebabkan ajaran yang beliau sampaikan mereka anggap bertentangan dengan tradisi dan adat istiadat yang selama ini mereka pegang dan jalankan. Sebagaimana Rasulullah Saw. pernah mengingatkan di dalam sabda beliau, “Perbanyaklah kalian mengingat Allah, meski reaksi yang bakal kalian tuai harus dinyatakan telah hilang ingatan (gila) oleh orang-orang di sekelilingmu.”[1]

Mereka kemudian menganggap, bahwa Nabi Allah Nuh as. mengajak mereka untuk meninggalkan apa saja yang telah terbiasa mereka lakukan sepanjang hidup mereka. Sampai pada suatu hari, Nabi Nuh as. berdo‟a kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah seorang yang dikalahkan oleh kaumku, maka berilah pertolongan kepadaku.” Do‟a Nabi Nuh as. ini dikabulkan oleh Allah, dan kaumnya ditenggelamkan ke dalam banjir yang sangat besar. Setelah mereka ditenggelamkan, dan Nabi Nuh as. beserta orang-orang yang beriman diselamatkan, maka Allah bertanya kepada kita, “Apakah dari peristiwa Nabi Allah Nuh as. dan umat beliau ada yang mau menjadikannya sebagai pelajaran?” Tentunya, orang-orang yang mau menggunakan pikiranlah yang akan menjadikan segala macam bencana alam yang terjadi di semesta ini untuk diambil pelajaran. Dan bahwa, di negeri yang telah dibinasakan oleh Allah Swt. terdapat banyak orang yang menentang perintah serta larangan Allah. Dan, di sana tidak lagi ditegakkan amar ma‟ruf nahi munkar.

SEJARAH NABI SHALEH as.

Perlu diketahui, bahwa kaum Nabi Allah Shalih as. Sangat menentang dengan ajaran yang beliau sampaikan. Mereka diuji dengan didatangkannya unta Nabi Shalih. Unta itu merupakan mukjizat tersendiri bagi Nabi Allah Shalih as. Oleh karena itu, Allah „Azza wa Jalla mencegah kaum beliau dari mengganggu unta tersebut, akan tetapi kaum beliau justru menyembelih unta tersebut, disebabkan mereka merasa terganggu dengan kehadiran unta tersebut. Seperti telah disebutkan di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Kaum Tsamud telah mendustakan Rasul-Nya karena mereka telah melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shalih) berkata kepada mereka, „Biarkanlah unta betina Allah dan minumannya.‟ Lalu mereka mendustakannya, dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka. Lalu Allah menyamaratakan mereka dengan tanah, dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu,” (QS al- Syams [91]: 11-15).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *